jemari yang terus menari di atas keyboard, menggabungkan kata demi kata yang terketik dalam layar putih kosong hingga menjadikannya sebuah cerita - @DKannisa
Rabu, 23 Juli 2014
Our Story : New Familly
Senin, 14 Juli 2014
This is real, this is me
Banyak orang yang bilang kalau pembawaan saya itu tenang, bijaksana, dan dewasa. Namun sejujur itu semua lebih dikarenakan saya bukan orang yang suka banyak omong. Kepribadian introvert yang saya miliki ini entah kapan menetap dalam diri saya. Banyak teman-teman yang mempercayakan saya sebagai orang yang bisa dijadikan pendengar yang baik, dijadikan sebagai penasihat. Tapi lepas dari itu semua, saya pribadi juga membutuhkan orang yang bisa berlaku seperti saya. Namun, entah mengapa itu sangat sulit. Bukan karena tidak ada, pasti ada dan akan selalu ada. Hanya saja karena saya bukan orang yang bisa menumpahkan segala keluh kesah saya kepada orang lain. Saya lebih suka memilih diam dan menyimpan semuanya sendiri.
Menulis..
Ya.. saya sangat suma menulis.
Itulah sebabnya saya lebih suka menyampaikan sebuah pesan lewat secarik kertas dari pada melalu microfon. (Ibaratnya seperti itu).
Dengan menulis saya bisa mencurahkan semua yang ada di pikiran saya.
Imajinasi..
Saya selalu memiliki imajinasi yang berbeda dengan orang lain. Awan di langit luas pun akan berubah menjadi seekor panda bila saya sedang berimajinasi. Dan melalui imajinasi saya tersebut, saya mencoba untum menuangkannya dalam sebuah cerita yang saya simpan di dalam notebook berwarna biru muda.
Seni..
Saya menyukai segala macam seni. Bagi saya, seni itu adalah kekayaan. Entah itu menari, menyanyi, melukis, menulis, atau yang lebih menggunakan teknologi yaitu membuat sebuah cerita yang disusun melalui gambar-gambar dan alunan lagu.
Tapi.. sekali lagi saya bisa bilang bahwa saya lebih suka berada di belakang, bertugas untuk mengontrol dan memberi dorongan kepada yang lain.
Jumat, 11 Juli 2014
Sebuah rindu kepada Ayah
Kepergian adalah hal yang mutlak, yang pasti terjadi di dunia ini. termasuk kepergian seorang ayah. 21 April 2014, beliau meninggalkanku. entah apa yang aku rasakan saat itu. sedih memang ada, pasti ada. namun, ada sepercik api kelegaan atas kepergiannya. Aku bahagia atas kepergiannya? TIDAK. aku sangat kesepian. sel kanker yang menggerogoti tubuhnya lebih dari 2 tahun akhirnya memaksa tubuh kurus nya "menyerah". Sejatinya aku tak terima akan kejadian tersebut. Namun, aku seorang terpelajar, seorang yang nantinya akan sering berhadapan dengan situasi seperti yang dirasakan waktu itu. Aku sudah tahu prognosis apa yang akan terjadi pada diri ayahku. Usia tidak akan ada yang tahu kecuali Allah . Dokter boleh berkata bahwa ayah tidak akan bisa melewatkan lebaran pada tahun 2013. Namun nyatanya? Beliau bisa melewatinya. Aku bisa mengehela napas lega.
Aku terus berpikir dan berterimakasih kepada Allah yang yang telah memberikan bonus umur kepada Ayah. Hingga pada saat bulan februari 2014, kondisi ayah mulai menurun. Obat kemoterapi yang ia konsumsi sejumlah 1 butir 1 hari 1 juta rupiah sangat taat ia lakukan. Dan itu membuahkan hasil. Benjolan tersebut mengecil, namun karena sudah berjalan sangat lama, tak bisa dihindari lagi bahwa sel-sel kanker tersebut telah menyebar ke otaknya. Memang sel primer tersebut telah mengecil, tapi sel lainnya yang tengah hinggap di otaknya terus berkembang menjadikan kondisi ayah semakin menurun. Aku berterimaksih kepada ayah yang telah menyekolahkanku sebagai perawat. Sehingga aku bisa merawat ayahku di rumah. Selama 2 minggu liburanku, aku "mengais" pahala dengan merawat dan menjaga ayahku.
Ucapan terimakasih tak henti-hentinya aku panjatkan kepada Sang Pemilik Alam Semesta beserta isinya, karena Dia telah memberikanku kesempatan untuk berbakti, membalas semua apa yang telah ayah lakukan kepadaku. Saat kepergiannya, aku tak berada di sampingnya. Saat itu aku baru saja menyelesaikan UASku. Aku tertegun mengetahui semua itu. Tangisku pecah, namun itu hanya sesaat. Entah perasaan apa ini. Mama menangis histeris, dan tugasku adalah menenangkannya. Aku boleh sedikit sombong karena memiliki hati yang begitu kuat.
Ayah, terimakasih telah menjadi Ayah yang paling terbaik di dunia ini untukku.
